Sistem instrument pengukuran level tangki LNG di Badak LNG

Suatu sistem instrumentasi adalah suatu sistem yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari. Sistem instrumentasi berperan sebagai pengukur, pengontrol, dan pencegah suatu bahaya atau kesalahan yang ditimbulkan dari suatu kegiatan. Dengan sistem instrumentasi, kita dapat mendapatkan kondisi ideal yang ingin kita capai dari suatu kegiatan yang kita laksanakan.

Penggunaan sistem instrumentasi yang akan saya angkat adalah sistem instrumentasi yang ada di wilayah kilang khususnya kilang PT Badak. Di PT Badak, banyak terdapat alat instrumentasi yang berguna untuk mengukur mengontrol jalannya proses di kilang. Objek pengukurannya juga sangat beragam seperti tekanan, arus, volume, suhu dan juga tindakan pencegahan seperti alarm.

Untuk lebih khusus dalam kajian saya akan mengambil suatu contoh dalam sistem instrumentasi yang ada di kilang PT Badak, yaitu pengukuran level LNG yang terdapat di tangki penyimpanan LNG.

Instrumentasi ini sangat kompleks karena dalam pengukurannya menggunakan lebih dari satu metode, lain lagi dengan proses monitoringnya yang dilakukan secara rutin dan terus menerus. Tetapi tetap instrumentasi ini tidak dapat memastikan 100% keakuratan pengukuran dan pengontrolannya, tetapi setidaknya sistem instrumentasi tersebut telah dirancang untuk memperkecil kesalahan yang dibuat.

Mengapa sistem instrumentasi pengukuran dan pengontrolan level di tangki penyimpanan sangat penting? Karena tangki LNG adalah tempat dimana produk yang akan dijual akan disimpan. Bisa saja dalam proses LNG yang dihasilkan berkualitas bagus tetapi karena sistem penyimpanannya yang buruk membuat kualitas LNG yang dijual menurun dan tidak sesuai dengan standar konsumen atau dalam kejadian dimana jumlah LNG yang dijual melebihi harga yang diberikan konsumen dan hal hal lainnya yang membuat perusahaan merugi. Maka dari itu sistem instrumentasi di tangki ini dibuat untuk mengatasi masalah tersebut

Prinsip kerja dari sistem pengukuran level di tangki penyimpanan LNG Badak adalah mengukur melalui jumlah perbedaan tekanan dan menggunakan suatu alat yang melakukan kontak lansung dengan permukaan LNG.

Kedua duanya bertujuan sama yaitu mengukur level LNG yang ada didalam tangki penyimpanan menggunakan beberapa faktor, diantaranya adalah tekanan, masa jenis, HHV, komposisi LNG, dan suhu.

Pengukuran level jenis Diferential Pressure (DP) didasarkan pada prinsip hydrostatic head. Prinsip ini menjelaskan bahwa pada setiap titik di dalam fluida yang diam (static), gaya yang bekerja padanya adalah sama untuk semua arah dan tidak tergantung pada volume fluida maupun bentuk ruang atau tempat dimana fluida berada, tetapi hanya bergantung pada tinggi kolom fluida di atas titik yang bersangkutan.

Prinsip pembacaan perbedaan tekanan di dalam tanki bergantung pada sisi HP/High Pressure dan sisi LP/Low Pressure dari taping point yang sudah ditentukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa DP Transmitter mengukur tekanan hydrostatic dari fluida yang ada di dalam tanki dan hydrostatic head dinyatakan dalam satuan tekanan.

contoh pada tanki LNG 24D-1, terpasang dua DP Level Transmitter (24-LT-200 dan 24-LT-201), untuk tipe yang pertama dalam bentuk analog dan yang kedua dalam bentuk digital. Pengukuran level dengan DP Transmitter maupun flow meter tokico 2 inch memiliki kendala dalam hasil pengukurannya karena hasil yang ditampilkan sebagai nilai level dalam bentuk percentage (%) merupakan konversi dari tekanan yang terbaca di dalam tanki LNG.

Untuk nilai tekanan yang terukur pada tanki LNG 24D-1 sebesar 0 mmH2O – 15500 mmH2O. Sehingga dapat disimpulkan bahwa level yang ditampilkan di indikator level transmitter merupakan kondisi dari tekanan yang terukur.

Pengukuran level dengan alat Scientific Instrument LTD6290 dilakukan oleh sebuah mekanisme pergerakan elektro mekanik yang beroperasi sebagai unit multi sensor probe yang terpasang pada tangki penyimpanan LNG atau media cryogenic yang sejenis.

Probe pada tangki digerakkan secara vertikal oleh mekanisme pergerakan dari control unit. Pengukuran ini kemudian ditampilkan pada sebuah Human Machine Interface (HMI) yang berada pada control room melalui Field Control Station (FCS) yang berbeda dengan FCS yang terbangun dengan DCS.

Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil pengukuran dengan SI tersampaikan melalui control unit yang terbangun sendiri, tidak melalui control unit dari arsitektur DCS.

Selain mendapatkan data komposisi gas dari GC Analyzer, PT. Badak memiliki departemen yang bertugas untuk melakukan analisa kimia yang salah satunya adalah menganalisa sampel gas dari LNG, departemen tersebut adalah departemen laboratorium.

Di laboratorium ini dilakukan kegiatan menganalisa senyawa kimia dan kegiatan yang dilakukan salah satunya adalah mengambil sampel gas LNG di lapangan setiap 8 jam.
Prosedur pengambilan sampel gas dilakukan setiap jam 08.00 (pagi); 16.00 (sore) dan 24.00 (malam).

Setelah dilakukan pengambilan sampel gas, dilanjutkan dengan proses analisa sampel gas dengan alat GC. Analyzeryang terdapat pada ruangan laboratorium. Karena dalam proses LNG di PT. Badak diasumsikan tetap, pihak laboratorium melakukan kegiatan perhitungan densitas LNG sebagai laporan cadangan untuk mengetahui densitas LNG yang terkandung di dalam tanki LNG.

Proses perhitungan densitas LNG ini sendiri dilakukan dengan cara manual, selain itu untuk mengetahui data temperatur, pihak laboratorium harus menghubungi pihak operator control room dan yang kadang terjadi adalah penyampaian informasi temperatur yang tidak sesuai dengan kondisi saat pengambilan sampel gas.

Kedua sistem instrumentasi dan pengujian oleh pihak laboratorium dan pengontrolan oleh operator tujuannya tidak lain adalah menghitung delta kuantitas dari LNG di dalam tangki, tujuannya agar jumlah LNG yang disalurkan sesuai dan sama rata di setiap kapal tangker.

Dan tujuan akhir dari sistem instrument ini adalah menghitung keuntungan yang akan dihasilkan dari pengukuran level LNG di tangki.

Leave a Reply