Rasio Konsumsi BBM Kendaraan terhadap Tarif Angkutan

Komponen tarif didalam usaha angkutan barang merupakan kunci pembuka kerja sama pada penyedia jasa transportasi/transporter/vendor dengan user/customer-nya.

Dalam perihal ini tarif termasuk merupakan image atau tagline berasal dari sebuah perusahaan transportasi, seperti halnya yang digunakan oleh perusahaan penerbangan dengan low biaya carrier atau penerbangan LCC.

Jika berjalan kesalahan perhitungan tarif dan kesalahan perhitungan penawaran harga maka bakal berdampak fatal bagi perusahaan angkutan, karena Tarif merupakan sumber pendapatan bagi transporter.

Jika tarif rendah bakal mendatangkan kerugian bagi perusahaan angkutan, namun kecuali tarifnya terlalu tinggi termasuk bakal ditolak atau tidak dipakai oleh customer.

“Menghitung tarif angkut ini khusus untuk truk angkutan barang, termasuk bukan untuk tarif express.

” kata Sugi Purnoto, Dewan Pakar DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) didalam penjelasannya di Kuliah Telegram (Kulgram).

Menurut Sugi, terdapat sembilan komponen biaya untuk basic pemilihan tarif angkutan barang, yaitu:

  1. Biaya BBM (bahan bakar minyak);
  2. Biaya operasional driver (tol, parkir, duit makan, honor, mel);
  3. Biaya maintenance;
  4. Biaya tire atau ban;
  5. Biaya depresiasi;
  6. Biaya bunga investasi;
  7. Biaya legal & liaisons;
  8. Biaya overhead;
  9. Profit atau keuntungan perusahaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tarif transportasi, menurut Sugi terbagi didalam dua kelompok, yaitu faktor direct biaya (biaya langsung) dan indirect biaya (biaya tidak langsung).

Biaya langsung seperti biaya BBM; biaya penyebarangan, tol, parkir, dispensasi; dan juga biaya honor sopir.

Sedangkan biaya tidak langsung seperti biaya bunga bank untuk investasi; biaya depresiasi; biaya maintenance; biaya tire/ban; biaya administrasi/legalisasi truk; biaya overhead atau biaya selalu kantor; dan keuntungan perusahaan/profit.

Rasio BBM terhadap Tarif Angkut

Biaya BBM merupakan tidak benar satu komponen biaya terbesar yang mempengaruhi didalam perhitungan tarif angkutan ataupun biaya operasional bagi internal perusahaan transportasi.

Menurut Sugi, rumus untuk menghitung biaya BBM adalah jarak tempuh x rasio BBM per tiap-tiap type truk x harga BBM solar (baik solar subsidi (Rp 5.150/liter) maupun solar industri (Rp 5.000/liter)).

Sugi mengasumsikan bahwa makin jauh jarak tempuhnya maka bakal makin besar biaya BBM yang bakal digunakan, demikian termasuk sebaliknya.


Faktor-faktor yang mempengaruhi rasio BBM adalah tingkah laku sopir dikala mengemudi; suasana jalan yang dilewati (rata, atau banyak tanjakan dan turunan atau suasana jalan rusak );

beban atau load cargo yang diangkut; tekanan ban (semakin tidak cukup tekanan anginnya didalam Psi maka bakal makin banyak konsumsi BBM-nya); dan pengoperasian kendaraan, apakah banyak stop plus go atau continue. “Termasuk maintenance truck tersebut. Jadi ada enam faktor yang berpengaruh terhadap rasio BBM,” kata Sugi menambahkan.

Dalam perihal ini jarak tempuh termasuk terlalu berperan memilih biaya transportasi barang.


Rumus keseluruhan jarak per costumer : rasio BBM per type truck x harga BBM, bakal jadi basic utama didalam penetapan tarif ke customer dengan menggunkan pengukur Flow Meter Solar. Sugi memberi saran untuk memakai metode RHM (Road Hazard Mapping) didalam menghitung akurasi jarak per cutomer, baik untuk akses menuju ke costumer maupun akses berasal dari customer.

Bobot kargo jadi acuan ke dua didalam memilih standar tarif angkutan. Sugi menyatakan bahwa basic hukum pemilihan standar bobot kargo adalah batasan payload atau JBI (jumlah beban yang diizinkan) yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan, dan tercetak didalam buku KIR setiap kendaraan.

“Bobot cargo diperhitungkan kecuali tarif yang bakal digunakan memakai type tarif per kg/ton bukan base on trip atau M3, sehingga perhitungan minimum bobot atau berat dan maksimum berat mesti jadi perhatian utama terhadap selagi memilih tarif dan termasuk batasan payload,” kata Sugi didalam materinya.

“Untuk perhitungan Solar , apakah jalan tanjakan beda dengan jalan datar? Kira-kira selisihnya berapa perbandingan solarnya Pak?” ujar Carolina, tidak benar seorang member Indonesia Truckers Club.

Sugi bicara bahwa ada perbedaan rasio BBM untuk pengiriman berasal dari Jakarta ke Bandung dibandingkan berasal dari Jakarta ke Cirebon atau Merak.

“Bedanya cukup banyak. Untuk tronton sebelum ODOL, memakai Nissan PK 260 muatan 25 ton kecepatan 50 km per jam dengan posisi persneling di dua, jadi start berasal dari Tol Sadang km.75 sampai km.120 Padalarang rasio BBM-nya satu banding dua. Kalau lurus rasio dapat satu banding tiga,” katanya menjelaskan.

Metode Penentuan Tarif terkait BBM

Jika berjalan kenaikan atau penurunan harga BBM solar, Sugi menyatakan bahwa ada tiga metode yang dapat dipakai didalam pemilihan tarif angkutan.

Mengingat selama ini tarif angkutan termasuk ditentukan berasal dari harga BBM padahal UMP dan harga ban naik terus, selagi beberapa pengusaha truk masih rela banting harga.

Tiga metode pemilihan tarif terkait komponen biaya BBM, yaitu metode Riil Cost atau Back to Back Cost; metode Persen Biaya BBM terhadap Tarif; dan metode Tarif dengan Tabel Harga BBM.

Metode Riil Cost atau Back to Back Cost merupakan metode yang dipakai dan disepakati pada principle/customer dengan transporter-nya, yang memakai selisih kenaikan atau penurunan harga BBM terhadap tarif angkutan.

Menurut Sugi, didalam metode ini antarpihak mesti menyepakati terlebih dahulu jarak tempuk didalam km, rasio BBM untuk type truk yang digunakan, dan juga jumlah liter yang digunakan. Selisih harga BBM dikalikan jumlah liter yang telah disepakati, sesudah itu dikurangkan atau ditambahkan didalam tarif angkutan.

Contoh implementasi [1]

Jenis truck WB rute : Jakarta – Surabaya.
Harga BBM/Solar Rp 5.150.
Tarif : Rp 6.500.000.
Jarak one way : 800 KM.
Rasio BBM : 1 : 3 ( 1 liter untuk 3 KM ).
Jumlah Liter : 800 : 3 = 267 liter.
Biaya BBM : Rp 5.150 X 267 liter = Rp 1.375.050.
Rasio Biaya BBM terhadap tarif : Rp 1.375.050/Rp 6.500.000 = 21,15 persen.

Contoh implementas [2] – Jika berjalan perubahan harga BBM solar


Harga BBM Lama : Rp 5.150
Harga BBM baru : Rp 5.650.
BBM naik harga per liter Rp 500.
Total biaya BBM Naik : Rp 500 X 267 Liter = 133.500.
Tarif : Rp 6.500.000.
Tarif baru : Rp 6.500.00 + 133.500 = Rp 6.633.500.
Persen kenaikan tarif = 2 persen.

Metode Persen Biaya BBM terhadap Tarif adalah metode yang dipakai dan disepakati pada principle/customer dengan transporter-nya, dengan memakai prosen BBM terhadap tarif angkutan.

Dalam metode ini disepakati terlebih dahulu prosen BBM terhadap tarif, apakah 20 persen, 25 prosen atau 30 persen. Persen BBM dikalikan dengan tarif, maka didapatlah estimasi biaya BBM dibagi dengan rasio BBM truck, maka bakal diketahui jumlah liter yang digunakan.

Selisih harga harga BBM dikalikan dengan jumlah liter, sesudah itu dikurangkan atau ditambahkan didalam prosen biaya BBM terhadap tarif dengan acuan rasio yang sama.

Contoh implementasi [1]

Jenis truck WB rute : Jakarta – Surabaya.
Harga BBM/Solar Rp 5.150.
Tarif : Rp 6.500.000.
Rasio BBM terhadap tarif : 25%.
Biaya BBM : 25% X Rp 6.500.000 = Rp 1.625.000.
Jumlah liter : Rp 1.625.000/Rp 5.150 = 315 liter.

Contoh implementas [2] – Jika berjalan perubahan harga BBM solar


Harga BBM Lama : Rp 5.150
Harga BBM baru : Rp 5.650.
BBM naik harga per liter Rp 500.
Total biaya BBM Turun : Rp 500 X 315 Liter = 157.500.
Tarif : Rp 6.500.000.
Tarif baru : Rp 6.500.00 + 157.500 = Rp 6.657.500
Persen kenaikan tarif = 2,4 persen

III. Metode Tarif dengan Tabel Harga BBM

Merupakan metode yang dipakai dan disepakati pada principle/customer dengan transporter-nya dengan memakai tersebut sebagai acuan kenaikan atau penurunan BBM.

Leave a Reply