Peternak Ayam Kala Wabah Corona Harga Pakan Naik, Daging Ayam Turun

Harga beli daging ayam di pasaran tetap mengalami penurunan. Banyak pedagang mengobral dagangannya via tempat sosial dengan harga murah.

Mulai dari Rp 20.000 hingga Rp.25.000 perkilogram. Bahkan tersedia yang menawarkan Rp.15.000 perkilogram untuk ayam yang telah dibersihkan bulunya.

Salah seorang peternak ayam broiler Erfanto, warga Putat Kecamatan Patuk mengeluhkan rendahnya harga jual ayam kini. Ketika tetap di kandang, ayam-ayamnya hanya dihargai Rp.10.000 perkilogram di dalam situasi hidup. Hal tersebut amat memberatkan dirinya.

Saat ini ia mengelola tiga kandang dan 2 diantaranya telah panen 3 hari yang lalu. Sementara satu kandang ulang ayamnya baru berumur kira-kira 8 hari.


“Tetapi kan harga daging ayam di pasaran saat ini sedang anjlok maka hasil yang aku dapatkan pun tidak maksimal,”ujarnya.

Ia sedikit beruntung karena ia memelihara ayam dengan proses plasma, yaitu menginduk ke sebuah perusahaan agar kerugian lebih besar ditanggung oleh perusahaan dan ia hanya menanggung sedikit serta mirip sekali tidak meraih hasil.

Serupa dengan Erfanto, Mugimin, mengaku mengalami kerugian. Ia yang meminta harga naik menjelang puasa justru mesti gigit jari karena merugi. Ia mengeluhkan harga pakan yang naik, tapi harga daging justru turun.
“Jelas rugi masak harganya Rp 10.000 perkilogramnya. Normalnya Rp 18.000 ribu baru impas,” keluhnya.

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo mengakui, harga ayam di pasaran tetap mengalami penurunan di dalam seminggu terakhir. Wabah corona menyebabkan permintaan daging ayam di pasaran semakin turun.


Banyak perusahaan ataupun restoran yang kurangi permintaan dengan alasan sepi pembeli sejak virus corona mewabah. Perlahan-lahan, harga daging ayam tetap mengalami penurunan dan dampaknya dirasakan para peternak.

“Awal pekan lalu harga ayam tetap di Kisaran kira-kira Rp14.000 per kilogramnya tapi tetap Mengalami penurunan tiap-tiap hari. Dan kini harga ayam hanya Rp8.000 per kg nya kala tetap di dalam situasi hidup di kandang,”ungkap Hari.

Kondisi semakin kronis setelah terdapatnya imbauan pemerintah yang meminta warganya untuk tidak ke luar tempat tinggal terkecuali tidak di dalam situasi darurat.

“Bagaimana tidak turun wong restoran terhadap tutup warung makan terhitung tutup jam operasional pasar tradisional pun saat ini semakin sebentar,” pungkasnya.

Ia mengatakan, situasi waktu ini lebih jelek dibandingkan dengan waktu lebih dari satu waktu lalu kala para peternak ayam laksanakan aksi demonstrasi dengan membagi-bagikan ayam secara gratis di bermacam wilayah.


Ia mengatakan, dengan naiknya harga pakan, semestinya harga daging ayam terhitung ikut naik. Tapi fakta di lapangan justru harga daging ayam menurun.

Meski harga DOC atau bibit ayam sedang turun, tapi situasi tersebut tidak menopang para peternak karena harga jualnya lumayan rendah dibandingkan dengan biaya memproduksi yang mesti mereka tanggung.

Sehingga, peternak terpaksa mengosongkan kandang karena ketidakpastian kapan wabah selesai dan kestabilan harga ayam di pasaran.

“Saya justru kuatir karena 1 atau 2 bulan mendatang harga daging ayam dapat mengalami lonjakan akibat tidak tersedia pasokan ayam segar.

Kalau saat ini tidak tersedia yang memproduksi otomatis kan besok 1-2 bulan ulang atau pas lebaran tidak tersedia yang panen. Harga melonjak drastis,” terangnya.

Leave a Reply